Meski hanya satu kasus, warganet menyebarluaskan kasus ini di media sosial sehingga menjadi memunculkan kekhawatiran.
Sebagai bentuk dukungan kepada keluarga korban, mereka mengubah foto profil Facebook dan mengampanyekan 'Justice for Victoria', nama samaran korban.
Tak hanya itu, ratusan orang akan ambil bagian dalam aksi unjuk rasa di Departemen Penyelidikan Kriminal (CID) Kepolisian Yangon pada Sabtu mendatang, mendesak agar pelaku diberikan hukuman berat.
Pakar kesejahteraan anak dari lembaga swadaya masyarakat (LSM) Terre des Hommes (Lausanne) menyatakan, kasus pemerkosaan anak sangat umum di kota-kota berpenghasilan rendah di Myanmar. Sebagian besar kasus ini tidak dilaporkan ke polisi.
Stigma dan keengganan untuk melakukan proses peradilan yang panjang membuat keluarga enggan untuk buka mulut.
LSM itu menyebut, ada satu atau dua kasus pemerkosaan anak setiap pekan di Yangon.