Bahkan para politisi oposisi menyebut pemerintahan Kamerun dijalankan dengan autopilot.
Pemimpin oposisi Kamerun Issa Tchiroma Bakary mengatakan, ada persepsi luas di Kamerun bahwa kondisi Biya sedang tidak baik-baik saja. Ketidakhadirannya membuat marah pihak oposisi.
Bakary merupakan lawan Biya dalam pemilihan presiden pada Oktober 2025, namun kalah.
“Kehadiran Biya yang sangat lama di Swiss hanya memperburuk kurangnya legitimasi dan upaya putus asa untuk mempertahankan kekuasaan dengan kekerasan,” kata Bakary, dalam pesan teks dari pengasingannya di Gambia, seperti dikutip dari Associated Press, Senin (10/8/2026).
Dalam pilpres 2025 Bakary meraup lebih dari 35 persen suara, menuduh Biya melakukan kecurangan.
Terpilihnya kembali Biya pada 2025 memicu demonstrasi luas menyebabkan setidaknya empat orang tewas.
Biya berkuasa setelah pengunduran diri presiden pertama Kamerun, Ahmadou Ahidjo, yang menjabat pada 1960 hingga 1982.