Menteri urusan Kewarganegaraan Prancis, Marlene Schiappa. (Foto: Getty Images).
Djairan

PARIS, iNews.id - Program acara televisi di Prancis membuat publik heboh dengan tayangan kontroversial yang meminta calon pengantin muda untuk membuktikan keperawanan. Acara tersebut mendapat kecaman berbagai pihak termasuk pemerintah.

Menteri urusan Kewarganegaraan Prancis, Marlene Schiappa menulis surat kepada otoritas pengawas siaran Prancis, CSA. Dalam surat itu dia mengecam tayangan tersebut. Menurutnya, proses itu menjijikkan karena Majelis Nasional Prancis baru saja menerbitkan undang-undang yang melarang tes keperawanan.

"Seluruh institusi terkait ikatan pernikahan di negara kami diinjak-injak," katanya.

Tayangan serial Incredible Gypsy Weddings, diperlihatkan suatu ritual di mana calon pengantin perempuan diperiksa oleh kerabat perempuan tepat sebelum pernikahan berlangsung. Pemeriksaan itu untuk mengetahui apakah dia pernah hubungan seks.

Terinspirasi oleh program serial Big Fat Gypsy Wedding yang disiarkan di Channel 4, serial Prancis disiarkan melalui saluran TFX itu mengekspos tradisi pacaran dan pernikahan komunitas gipsi Catalan yang tinggal di Kota Perpignan.

Dalam edisi serial yang ditayangkan pada Februari lalu, penonton menyaksikan ritual di tengah persiapan pernikahan mewah, termasuk tempat tidur serta tempat upacara yang akan digunakan. Dalam ritual itu dijelaskan bagaimana seorang calon pengantin diperiksa keperawanannya.

"Di tempat tidur ini seorang perempuan, berbekal pelatihan khusus, akan menguji ketahanan selaput dara Naomi (calon pengantin) dengan tisu halus. Upacara sapu tangan ini merupakan warisan leluhur yang tidak terhindarkan. Jika Naomi terbukti telah melakukan hubungan seksual, maka pernikahan akan dibatalkan," ujar narasi serial televisi itu, dikutip BBC, Sabtu (3/4/2021).

Dalam serial tersebut juga dijelaskan mengapa ritual itu penting. "Ini untuk kepentingan keluarga tentunya, agar mereka tahu bahwa pihak mereka telah mengambil seorang perempuan cantik yang tepat, yaitu yang masih perawan,” kata perempuan dalam tayangan itu.

Selain itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menyampaikan mengenai praktik pemeriksaan selaput dara secara visual atau dengan jari tidak dapat membuktikan apakah seorang perempuan pernah melakukan hubungan intim atau tidak. WHO juga menggolongkan osebagai pelanggaran hak asasi manusia (HAM).


Editor : Kurnia Illahi

BERITA TERKAIT