Selain itu, kedua pemimpin membahas implementasi berbagai perjanjian yang telah ditandatangani sebelumnya. Mereka juga menyerukan peningkatan kerja sama di sektor perdagangan, energi, transportasi, serta isu-isu strategis kawasan.
Media Iran melaporkan Al Zaidi juga menggelar pertemuan dengan Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf yang juga menjadi kepala juru runding negosiasi dengan AS, serta Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi.
NYT juga melaporkan bahwa para pejabat Iran justru mempersiapkan kemungkinan konflik yang lebih luas apabila Presiden Trump melanjutkan ancamannya untuk menyerang infrastruktur vital Iran, termasuk fasilitas nuklir dan pembangkit listrik.
Menurut para pejabat Iran, serangan terhadap fasilitas strategis itu akan memicu pembalasan yang lebih keras dan meluas di Timur Tengah, termasuk kemungkinan menargetkan Israel.
Iran juga disebut telah meminta kelompok Houthi di Yaman untuk menutup Selat Bab Al Mandab apabila konflik terus meningkat. Penutupan jalur pelayaran strategis tersebut berpotensi mengganggu ekspor minyak dari negara-negara Teluk.
Serangan AS ke Iran dalam konflik terbaru yang berlangsung sejak akhir Juni dilaporkan telah menewaskan 58 orang dan melukai lebih dari 600 lainnya hingga Jumat (24/7/2026).