TEHERAN, iNews.id - Demonstrasi besar-besaran mengguncang Iran dalam beberapa hari terakhir, menandai gelombang protes terbesar dalam tiga tahun terakhir. Ribuan warga di berbagai wilayah turun ke jalan, sementara toko dan tempat usaha di sejumlah kota besar tutup sebagai bentuk perlawanan.
Lalu, apa penyebab utama gelombang kemarahan publik ini?
Faktor pemicu paling dominan adalah keruntuhan ekonomi yang kian parah. Nilai mata uang Iran, rial, anjlok ke titik terendah sepanjang sejarah terhadap dolar Amerika Serikat. Kejatuhan ini langsung memicu lonjakan harga kebutuhan pokok dan biaya hidup, sehingga daya beli masyarakat merosot tajam.
Demonstrasi mulai pecah pada Minggu (28/12/2025), bertepatan dengan anjloknya rial. Para pedagang dan pemilik toko di Teheran memilih menutup usaha mereka sebagai bentuk protes, sinyal kuat bahwa tekanan ekonomi telah mencapai batas toleransi. Aksi ini kemudian menyebar ke kota-kota besar lain seperti Isfahan, Shiraz, dan Mashhad.
Selain ekonomi domestik, gejolak politik dan kondisi regional turut memperburuk situasi. Ketegangan kawasan, yang berpuncak pada serangan Israel pada Juni lalu, menambah beban psikologis dan ekonomi masyarakat Iran. Ketidakpastian ini memperdalam rasa frustrasi publik terhadap pemerintah.
Video yang beredar di media sosial memperlihatkan para demonstran meneriakkan slogan anti-pemerintah seperti “Jangan takut, kita bersama” dan “Azadi” yang berarti kebebasan.
Aparat keamanan merespons dengan mengerahkan polisi anti-huru hara dan menembakkan gas air mata untuk membubarkan massa.
Pemandangan ini mengingatkan publik pada demonstrasi besar 2022 menyusul tewasnya Mahsa Amini dalam tahanan kepolisian moral. Namun, berbeda dengan penanganan keras pada masa itu, pemerintah kali ini terlihat lebih menahan diri.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian memahami tuntutan rakyat dan memerintahkan para pejabat untuk mendengarkan keluhan publik. Pemerintah juga berencana menggelar pertemuan dengan perwakilan demonstran.
“Kesejahteraan rakyat adalah perhatian saya sehari-hari,” ujar Pezeshkian melalui akun media sosial X, Kamis (1/1/2026).