Jalur perairan strategis bagi pasokan energi dunia itu menjadi alat tawar-menawar utama dalam mengakhiri konflik AS-Iran yang telah berlangsung hampir 7 bulan. Iran menginginkan pelonggaran blokade maritim AS yang melumpuhkan ekonominya. Sementara AS mendesak dibukanya kembali blokade Selat Hormuz yang juga memukul perekonomiannya.
Diplomat senior Qatar, Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al Thani, yang berperan sebagai mediator dalam konflik Timur Tengah, telah bertemu Presiden Iran Masoud Pezeshkian di sela Sidang Umum PBB pada Jumat (25/9/2026) guna membahas deeskalasi dan syarat-syarat untuk dialog.
Pezeshkian mengundang Sheikh Mohammed ke tempatnya menginap di New York guna membahas perkembangan terkini di kawasan serta upaya-upaya untuk meredakan ketegangan dan menciptakan lingkungan yang kondusif bagi dialog.
Seorang pejabat senior Iran mengatakan, cara paling masuk akal untuk mengakhiri kebuntuan perundingan dengan AS adalah melalui pengaturan bertahap, yakni Iran mengizinkan pelayaran melintasi Selat Hormuz sebagai imbalan atas pencabutan blokade ekonomi oleh AS, serta pencairan aset-aset Iran yang dibekukan.
"Salah satu jalan keluarnya adalah dengan mengatasi krisis ini secara bertahap. Langkah pertama adalah mengakhiri blokade dan membuka kembali Selat Hormuz," ujar pejabat tersebut.