Dia menuduh demonstrasi telah disusupi oleh teroris terlatih yang bertujuan menciptakan kekacauan dan memicu pertumpahan darah. Target akhirnya, menurut Araghchi, adalah memberikan dalih bagi AS untuk melancarkan agresi militer.
“Teroris terlatih menyusup ke barisan demonstran dan menyerang para demonstran serta personel keamanan,” ujarnya.
Meski menegaskan kesiapan perang, Araghchi menyatakan Iran tetap membuka pintu diplomasi. Pemerintah Iran disebut tengah menjajaki kemungkinan bertemu dengan utusan khusus Trump untuk Timur Tengah, Steve Witkoff, atau menempuh jalur lain guna mencegah eskalasi konflik.
Namun, Iran meragukan keseriusan AS dalam menjalani perundingan yang konstruktif, terutama selama ancaman militer masih terus disuarakan.