Indonesia pada tahun ini menjadi Presidensi G20 dan siap menyambut para delegasi internasional menghadiri KTT di Bali, November nanti (ilustrasi). (Foto: ANTARA)
Ahmad Islamy Jamil

WASHINGTON DC, iNews.id – Saran Presiden AS Joe Biden agar Rusia dikeluarkan dari G20, dinilai bukanlah ide yang baik. Jika saran tersebut benar-benar diterapkan, hal itu bakal berdampak buruk pada upaya penanangan krisis pangan global.

Kepala kelompok bantuan kemanusiaan asal Jerman Welthungerhilfe (WHH), Mathias Mogge mengatakan, perang di Ukraina telah memperburuk penanganan krisis pangan di dunia. Namun, menyingkirkan Rusia dari G20 dan lembaga internasional lainnya dapat semakin memperlambat upaya global untuk mengatasi krisis tersebut.

Lewat kegiatannya, WHH saat ini melayani 14,3 juta orang dengan proyek di 35 negara. Mogge pun menganggap sangat penting untuk menjaga komunikasi dengan Rusia. Pasalnya, negeri beruang merah menjadi salah satu produsen gandum terbesar di dunia. Peran Rusia dibutuhkan dalam mengatasi krisis pangan global.

“Tentu saja, Rusia adalah agresor di sini (dalam Perang Ukraina), dan perlu ada sanksi dan segalanya. Tetapi dalam situasi kemanusiaan seperti yang kita alami saat ini, harus ada jalur komunikasi yang terbuka,” kata Mogge dalam wawancara dengan Reuters, pekan ini.

Sebelumnya, Biden meminta agar Rusia diusir dari G20 (kelompok yang beranggotakan negara-negara ekonomi utama dunia), sebagai hukuman atas operasi militer Moskow di Ukraina. Para ahli pun menilai usulan kepala negara Amerika Serikat itu tidak mungkin terjadi, mengingat kurangnya dukungan dari India, China, dan beberapa anggota G20 lainnya.

Indonesia—yang saat ini menduduki Presidensi G20—telah menegaskan netralitasnya dalam masalah konflik Ukraina. Indonesia akan tetap mengundang semua anggota G20 dalam konferensi tingkat tinggi (KTT), seperti para presidensi sebelumnya. Menurut rencana, KTT G20 tahun ini akan dilangsungkan di Bali pada November nanti.

Operasi militer Rusia di Ukraina sejak Februari lalu mendorong kenaikan tajam harga pangan di seluruh dunia dan memicu kekurangan tanaman pokok di beberapa bagian Asia Tengah, Timur Tengah, dan Afrika Utara, menurut para pejabat PBB.

Rusia dan Ukraina tercatat sebagai lumbung pangan dunia. Kedua negara bekas Uni Soviet ini menyumbang 25 persen dari ekspor gandum dan 16 persen dari ekspor jagung dunia.


Editor : Ahmad Islamy Jamil

BERITA TERKAIT