Presiden Rusia Vladimir Putin (kiri) berjabat tangan dengan Presiden AS Joe Biden (kanan) saat bertemu di Swiss tahun lalu. (Foto: Reuters)
Ahmad Islamy Jamil

MOSKOW, iNews.id – Berbagai pernyataan negatif dari Presiden AS Joe Biden tentang Vladimir Putin, dianggap Kremlin sudah menista pribadi presiden Rusia itu. Juru Bicara Kremlin, Dmitry Peskov mengatakan, penghinaan semacam itu bukan kali ini saja terlontar dari mulut Biden.

Pada Rabu (16/3/2022), Biden menyebut Putin sebagai penjahat perang di hadapan wartawan di Gedung Putih, Washington DC. Keesokannya, dalam sebuah acara jamuan makan malam tahunan Friends of Ireland, Biden bahkan menyebut Putin “diktator pembunuh” dan “preman murni”. Friends of Ireland adalah organisasi di Kongres AS yang didirikan pada 1981 oleh orang-orang keturunan Irlandia di Amerika.

Peskov menilai semua pernyataan Biden tersebut tidak dapat diterima dan tidak dapat dimaafkan. Padahal, bom yang selama ini telah ditebarkan di seluruh dunia oleh Amerika Serikat—negara yang dipimpin Biden—telah merenggut nyawa ratusan ribu orang.

“Kami benar-benar mendengar pernyataan-pernyataan yang sebenarnya sudah merupakan penistaan pribadi terhadap Presiden Putin. Pernyataan ini sebenarnya datang setiap hari dari Presiden Amerika Serikat, Tuan Biden,” kata Peskov kepada wartawan, Jumat (18/3/2022), dilansir kantor berita Sputnik.

Peskov mengatakan, Kremlin sendiri tidak ingin membalas balik pernyataan Biden itu dengan ungkapan-ungkapan yang tajam kepada pemimpin AS itu. Menurut dia, Biden mungkin sedang lelah. Apalagi, politikus Partai Demokrat itu kadang punya sifat pelupa dan gampang tersinggung, sehingga mengeluarkan pernyataan yang menghina Putin.

“Mengingat Tuan Biden yang mudah tersinggung, gampang lelah, terkadang pelupa, yang mengarah pada pernyataan agresif, kami tidak akan memberikan penilaian yang tajam agar tidak menyebabkan lebih banyak agresi,” kata Peskov. 

Menurut dia, saat ini belum ada pertimbangan dari Rusia untuk memutuskan hubungan diplomatik dengan Amerika Serikat gara-gara ucapan Biden tersebut.

Putin memerintahkan tentaranya untuk menyerang Ukraina pada 24 Februari lalu. Tujuan operasi tersebut untuk “demiliterisasi” dan “denazifikasi” negara tetangganya yang pro-Barat itu, di samping mencegah Kiev bergabung dengan NATO.

Tindakan Putin itu membuat negara-negara Barat (termasuk Amerika Serikat) geram dan menjatuhkan sanksi kepada Rusia.



Editor : Ahmad Islamy Jamil

BERITA TERKAIT