"Dia mengambil telepon dari orang itu dan memerintahkan saya untuk menghapus video," katanya.
Pereira bersedia menghapus rekamannya untuk memastikan dia akan mendapatkan ponselnya kembali.
Sontak kasus Pareira heboh setelah dia mengunggah video baru di Twitter yang menyampaikan apa yang terjadi.
The Supreme Committee for Delivery and Legacy yang merupakan penyelenggara Piala Dunia Qatar, tidak segera menanggapi permintaan komentar. Begitu pula kantor media pemerintah Qatar.
Gubernur Pernambuco Paulo Camara menyatakan solidaritasnya dengan Pereira di Twitter.
Sebelumnya, seorang jurnalis AS juga mengaku ditahan sebentar pada hari Senin (21/11/2022) ketika mencoba memasuki stadion Piala Dunia di Qatar sambil mengenakan kemeja pelangi yang mendukung komunitas LGBTQ. Dia juga mengklaim teleponnya disita.