"Menghina Nabi kami sama sekali tidak dapat diterima dan kami akan mengejar siapa saja yang tidak menghormati Nabi kami yang terhormat di pengadilan internasional, bahkan jika kami menghabiskan sisa hidup hanya untuk masalah ini," kata Tayeb, dalam pernyataan yang dirilis Al Azhar, seperti dikutip dari AFP, Senin (9/11/2020).
Le Drian menegaskan negaranya memberikan penghormatan mendalam terhadap Islam, meski mengakui banyak terdapat perbedaan.
"Saya mencatat banyak poin konvergensi dalam analisis masing-masing. (Tapi) Imam Besar mengusulkan agar kita bekerja sama menuju konvergensi, karena bersama-sama kita harus melawan fanatisme," ujarnya.
Sementara itu dalam konferensi pers dengan Menteri Luar Negeri Mesir Shoukry, Le Drian juga menyampaikan nada perdamaian.
"Saya menekankan rasa hormat yang mendalam dari kami untuk Islam," ujarnya.
Menurut dia Prancis memerangi terorisme yang merupakan bentuk pembajakan terhadap agama.
"Itu adalah ekstrimisme," katanya.
Demonstrasi mengecam keputusan Macron membela kartun Nabi Muhammad SAW pecah di beberapa negara mayoritas muslim. Sikap itu dipandang sebagai bentuk pelecehan terhadap umat Islam.