"Apakah ini sebuah kemenangan atau pengakuan atas kekalahan Amerika?" tulisnya.
Pernyataan tersebut muncul setelah Bessent mengatakan AS memasuki tahap baru dalam tekanan terhadap Iran melalui perang ekonomi. Dalam opini yang diterbitkan Financial Times pada Minggu (23/8/2026), Bessent menyebut langkah tersebut sebagai "serangan finansial terbesar yang pernah dilakukan terhadap musuh".
Bessent juga mengatakan, operasi ekonomi itu merupakan kelanjutan dari serangkaian tindakan AS yang sebelumnya diklaim telah melumpuhkan kemampuan militer Iran, menghancurkan hampir 100 persen pabrik senjata, dan mengubur program nuklir negara tersebut.
AS juga akan memberlakukan sanksi ekonomi besar-besaran terhadap Iran. Bessent dijadwalkan menjelaskan secara rinci daftar sanksi baru tersebut pada Senin (24/8/2026) waktu AS.
Presiden AS Donald Trump menyebut kebijakan itu sebagai operasi ekonomi yang bertujuan menekan Iran melalui jalur perdagangan dan keuangan. Sanksi tersebut diperkirakan akan semakin mengisolasi Iran dari sistem perdagangan dan keuangan global.
Trump bahkan menyebut perang ekonomi terhadap Iran sebagai sesuatu yang belum pernah dialami negara mana pun sebelumnya.
Namun, Teheran menilai langkah tersebut tidak akan membuat Iran menyerah. Gharibabadi mengatakan tekanan ekonomi AS akan gagal mencapai tujuan sebagaimana operasi militer sebelumnya.