Moderna mengklaim vaksinnya masih efektif 93 persen melawan Covid-19 reguler 6 bulan setelah pemberian dosis kedua (Foto: Antara)
Anton Suhartono

WASHINGTON, iNews.id - Produsen vaksin Covid-19 Moderna mengklaim efektivitas produknya tetap tinggi yakni di kisaran 93 persen, 6 bulan setelah pemberian dosis kedua. Ini berarti nyaris tak ada perubahan dari efektivitas berdasarkan uji klinis.

Namun data tersebut tidak termasuk respons vaksin dalam melawan Covid-19 varian Delta yang lebih menular. Moderna memperkirakan suntikan booster terhadap pengguna tetap dibutuhkan pada musim dingin tahun ini.

Presiden Moderna Stephen Hoge mengatakan, tingkat kemanjuran 93 persen ini berdasarkan studi yang dilakukan hingga Maret 2021.

"Sepertinya khasiatnya bertahan lama. Tapi saat ini kami masih buta terhadap apa yang terjadi dengan Delta, khususnya seputar lonjakan kasus yang terjadi pada Juni dan Juli," kata dia, dikutip dari Reuters, Jumat (6/8/2021).

Data terbaru itu berasal dari uji klinis terhadap sekitar 30.000 peserta pada Desember 2020, saat itu untuk mendapatkan otorisasi penggunaan darurat. Data 6 bulan tersebut juga menunjukkan vaksin Moderna masih memberikan perlindungan 98 persen terhadap penyakit parah dan 100 persen mencegah kematian akibat Covid-19.

Sementara itu CEO Moderna Stephane Bancel mengatakan, perusahaan tidak bisa memproduksi lebih dari 800 juta hingga 1 miliar dosis yang ditargetkan untuk tahun ini. Kapasitas produksi perusahaan sudah berada pada puncaknya.

"Kami tidak menerima pesanan lagi untuk 2021 karena kami benar-benar habis," katanya.

Bersama produsen vaksin berbasis mRNA lainnya, Pfizer, Moderna merekomendasikan suntikan booster. Namun para pejabat dari pemerintahan negara pengguna, termasuk Amerika Serikat, menuntut lebih banyak bukti terlebih dulu.

Berdasarkan penelitian di beberapa negara, varian Delta memang menurunkan tingkat efektivitas vaksin Covid-19. Namun untuk vaksin mRNA seperti Pfizer, penurunan efektivitas tak sampai menyebabkan penyakit parah bagi pengguna.

Pfizer pada pekan lalu mengungkap data, kemanjuran vaksinnya berkurang sekitar 6 persen setiap 2 bulan atau menjadi sekitar 84 persen 6 bulan setelah suntikan kedua. Ini menjadi alasan Pfizer untuk meminta otorisasi suntikan booster di AS mulai akhir bulan ini.

Vaksin Pfizer dan Moderna memang serupa, namun tidak identik. Dosis vaksin Moderna berisi 100 mikrogram, sedangkan Pfizer 30 mikrogram.

Moderna telah menguji coba versi dosis 50 mikrogram untuk suntikan booster. Studi dari tiga kandidat booster berbeda menghasilkan respons antibodi yang kuat dalam melawan beberapa varian, termasuk Gamma, Beta, dan Delta.

Dosis lebih tinggi mungkin berperan dalam meningkatkan daya tahan pengguna, namun perusahaan cukup puas dengan perlindungan yang diberikan dari dosis versi booster. Meski demikian Moderna juga sedang menguji suntikan booster berdosis 100 mikrogram.


Editor : Anton Suhartono

BERITA TERKAIT