Juru Bicara PBB Stephane Dujarric yakin banyak demonstran tewas selama demonstrasi, namun jumlahnya belum bisa diverifikasi.
"Kami bisa tetap berhubungan dengan rekan-rekan kami melalui sarana elektronik. Kami tidak memiliki angka pasti yang bisa diverifikasi, tetapi jelas bagi kami bahwa sejumlah orang, sejumlah warga sipil, telah tewas," kata Dujarric.
Sebelumnya seorang sumber pejabat militer di pasukan keamanan Iran mengungkap, lebih dari 500 orang tewas selama unjuk rasa, termasuk 110 polisi dan anggota Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).
Demonstrasi di Iran pecah sejak 28 Desember 2025 di tengah kekhawatiran tentang meningkatnya inflasi dipicu melemahnya mata uang rial Iran. Para dempnstran mengeluhkan fluktuasi nilai tukar yang menyebabkan kenaikan harga grosir dan eceran, mendorong Gubernur Bank Sentral Iran Mohammad Reza Farzin untuk mengundurkan diri.
Sejak 8 Januari, menyusul seruan dari Reza Pahlavi, putra Shah Iran yang digulingkan pada 1979, demonstrasi semakin intensif di Iran. Pada hari yang sama, pemerintah memblokir akses internet.