Seiring meningkatnya ketegangan di Selat Hormuz dan memanasnya konflik di Yaman, sejumlah pengamat menilai Iran sedang mempertimbangkan memperluas tekanan terhadap AS dengan mengganggu jalur perdagangan dan pasokan energi global di luar kawasan Teluk.
Sebelumnya, Iran telah menunjukkan kemampuan strategisnya dengan mengganggu lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz, yang memicu kenaikan harga minyak dunia. Kini, Teheran dinilai siap membuka titik tekanan kedua melalui Bab Al Mandab, jalur sempit yang menjadi salah satu urat nadi perdagangan internasional dan jalur utama ekspor minyak Arab Saudi.
Pengamat Timur Tengah, Fawaz Gerges, mengatakan Bab Al Mandab dapat menjadi kartu strategis terakhir Iran jika tekanan di Selat Hormuz tidak lagi cukup memberikan pengaruh.
"Jika Hormuz adalah pengungkit strategis terkuat Teheran, Bab Al Mandab mungkin menjadi cadangan terakhirnya. Iran akan melakukan apa pun," ujarnya kepada Reuters.
Menurut Gerges, Iran ingin menunjukkan kepada AS bahwa mereka mampu mengancam dua jalur pelayaran paling penting di dunia secara bersamaan. Langkah itu akan mengubah konflik dari sekadar konfrontasi bilateral menjadi ancaman serius terhadap jalur laut yang menopang perdagangan dan pasokan energi global.
"Sekarang (Iran) meningkatkan eskalasi, baik di dekat maupun luar. Pesannya adalah bahwa bukan hanya Hormuz, tapi Bab Al Mandab ikut berisiko," katanya.