Namun, para pejabat Iran menilai perubahan tersebut belum tentu membawa dampak signifikan. Mereka khawatir perang skala penuh masih bisa berlanjut meskipun Demokrat mulai menguasai Kongres pada Januari 2027.
Di tengah situasi tersebut, pembicaraan untuk mencegah pecahnya kembali pertempuran masih berlangsung melalui mediasi Qatar. Sejumlah sekutu AS di Timur Tengah juga mendesak Washington agar tidak melanjutkan perang yang telah mengguncang perekonomian global.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dilaporkan terus mendorong AS untuk kembali menyerang Iran. Namun, Trump sejauh ini berupaya menahan diri untuk tidak kembali menggunakan kekuatan militer dan lebih memilih menekan Teheran melalui jalur ekonomi.
Sementara itu, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menegaskan bahwa militer negaranya siap menghadapi dua kemungkinan, yakni negosiasi maupun perang.
"Amerika mengatakan tidak pada perang, dan kami mendukung pesan tersebut," tulis Ghalibaf dalam pernyataan di media sosial X.