Departemen Kehakiman AS tidak memerinci berapa banyak orang yang menjadi korban penipuan situs itu. Saat ini, penyelidikan masih berlangsung untuk mengidentifikasi siapa yang berada di balik penipuan tersebut dan berapa banyak uang yang dicuri oleh pemilik situs itu.
Intervensi oleh sistem peradilan federal adalah bagian dari upaya berkelanjutan oleh otoritas AS untuk memerangi penyebaran informasi yang keliru atau hoaks yang telah berkembang sejak awal pandemi Covid-19.
Jaksa Agung Bill Barr pekan lalu juga telah mendesak jaksa federal untuk menjadikan pemberantasan hoaks sebagai prioritas. Dia juga meminta kepada warga AS untuk melaporkan hoaks dan penipuan ke Pusat Nasional untuk Penanganan Penipuan Bencana.
Dia juga memperingatkan, berbagai bentuk penipuan itu termasuk di antaranya menjual alat perawatan palsu secara daring; meniru email milik WHO atau Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) yang dimaksudkan untuk mengumpulkan data pribadi, dan; meminta sumbangan untuk organisasi fiktif.
Bersamaan dengan itu, sistem peradilan AS juga tengah berupaya memerangi pemalsuan harga produk seperti pembersih tangan atau masker higienis. Lebih dari 33.000 orang telah terinfeksi oleh coronavirus di AS. Sebanyak 416 di antaranya meninggal dunia, menurut pelacakan Universitas Johns Hopkins.