Selama beberapa tahun terakhir, Selandia Baru sebenarnya telah bersiap menghadapi kemungkinan masuknya virus H5N1. Pemerintah bekerja sama dengan industri perunggasan untuk menyusun berbagai langkah biosekuriti dan strategi mitigasi guna melindungi sektor peternakan.
Hoggard memperkirakan pola penyebaran di Selandia Baru kemungkinan akan menyerupai Australia. Hingga 15 Juli, Australia telah melaporkan 14 kasus flu burung H5 yang terkonfirmasi maupun diduga positif.
Sebagai langkah antisipasi, otoritas kesehatan Selandia Baru juga mulai menjalankan program vaksinasi terhadap 300 indukan burung dari lima spesies burung paling terancam punah di negara tersebut. Program ini bertujuan melindungi populasi satwa langka apabila penyebaran virus semakin meluas.
Virus H5N1 telah menyebar secara global sejak 2021. Wabah ini menyebabkan kematian jutaan burung liar, menginfeksi peternakan unggas dan sapi perah di berbagai negara, serta menimbulkan sejumlah kasus infeksi pada pekerja peternakan.
Meski kasus pertama di Selandia Baru baru ditemukan pada seekor burung liar migran, otoritas setempat memastikan pemantauan akan terus diperketat untuk mencegah virus menyebar ke populasi unggas maupun satwa liar lainnya.