Presiden Macron Telepon Jurnalis karena Terganggu dengan Pemberitaan Ekstremisme Islam

Anton Suhartono
Emmanuel Macron (Foto: AFP)

Dukungan dari dalam negeri kepada pemerintah bahwa para imigran perlu menerapkan nilai-nilai Prancis dibandingkan sebelum pembunuhan guru Samuel Paty lantaran menunjukkan kartun Nabi Muhammad kepada murid-muridnya, semakin kuat.

Saat memberikan penghormatan di upacara pemakaman Paty, Macron membela sekularisme Prancis serta tabloid satir Charlie Hebdo yang menerbitkan kembali kartun Nabi Muhammad.

"Kami tidak akan menyerah kepada kartun," ujarnya, saat itu.

Pernyataannya itu mengundang kecaman dari komunitas muslim internasional, disertai pemboikotan produk Prancis.

Bukan hanya The New York Times, suat kabar Inggris Financial Times juga menerbitkan artikel berjudul "Perang Macron terhadap 'separatisme Islam' hanya memperparah perpecahan Prancis'.

Macron lalu mengirim surat kepada Financial Times di mana dia menyangkal stigmatisasi terhadap muslim.

"Prancis, kami diserang karena ini, merupakan (negara) sekuler bagi umat Islam, Kristen, Yahudi, Budha, dan semua keyakinan lain."

Financial Times lalu mencabut artikel itu.

Editor : Anton Suhartono
Artikel Terkait
3 hari lalu

Belasan Ribu Polisi Prancis Demonstrasi, Tuntut Kenaikan Gaji

7 hari lalu

Prancis dan Kanada Ikut Tekan Israel, Netanyahu Siapkan Balasan Diplomatik

11 hari lalu

Geger! Karya Seni Rp151 Miliar Dicuri dari Museum Prancis

11 hari lalu

Thailand Deportasi Warga Prancis Cekcok dengan Turis Israel, Sempat Kibarkan Bendera Palestina

Berita Terkini
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
Network Updates
News updates from 99+ regions
Personalize Your News
Get your customized local news
Login to enjoy more features and let the fun begin.
Kanal