Dalam pidatonya, Macron juga menyoroti situasi kemanusiaan di Jalur Gaza yang hancur akibat konflik. Dia bahkan menggebrak podium ketika mengecam kondisi kemanusiaan yang terjadi di wilayah tersebut.
Macron mempertanyakan kredibilitas masyarakat internasional jika tidak mampu mengambil tindakan nyata untuk membantu warga Gaza. Dia juga menyinggung klaim bahwa perdamaian telah tercapai, tetapi belum diikuti dengan terbukanya akses bantuan kemanusiaan.
"Berapa nilai kredibilitas kita, jika kita tidak bisa aktif di Gaza? Beberapa orang mengeklaim perdamaian telah tercapai, tapi ini belum membuka jalan bagi pengiriman bantuan kemanusiaan. Ini merupakan tontonan yang memalukan bagi kita semua," katanya.
Selain Gaza, Macron menyinggung situasi yang meluas ke Tepi Barat. Dia menekankan bahwa krisis kemanusiaan dan penghancuran infrastruktur sipil tidak boleh dianggap sebagai sesuatu yang normal dalam hubungan internasional.
Macron juga menyerukan Rusia dan Ukraina menyetujui moratorium serangan terhadap target sipil dan fasilitas energi. Dia mengecam serangan terhadap warga maupun infrastruktur sipil sebagai tindakan barbar.
"Kita telah menyaksikan penghancuran infrastruktur sipil, pelanggaran hak asasi manusia (HAM). Ini adalah era baru tindakan barbar," kata Macron.
Pidato tersebut menunjukkan kekhawatiran Macron terhadap arah tatanan internasional yang dinilainya menghadapi tantangan serius, mulai dari perang hingga krisis kemanusiaan dan ancaman terhadap kedaulatan negara.