Awalnya, pasukan ini merupakan separatis Chechnya pro-Moskow yang dipimpin oleh Akhmad Kadyrov. Aksi separatis muncul menyusul kegagalan elite dua negara mencapai kesepakatan tentang status Chechnya di dalam Federasi Rusia, radikalisasi, serta kekecewaan kaum muda di Kaukasus Utara.
Akhmad Kadyrov lantas memutuskan untuk meninggalkan pemimpin nasionalis Chechnya saat itu, Aslan Maskhadov. Dia mulai membelot ke Rusia selama Perang Chechnya II.
Akhmad Kadyrov tewas dibunuh jihadis pada 2004. Sejak itu, anaknya, Ramzan Kadyrov mengambil alih kepemimpinan Chechnya. Akhmat mendapat hak istimewa dalam pemerintahan Rusia dan disebut sebagai kekuatan Muslim Chechnya.
Akhmat menjadi pasukan utama negara dengan persetujuan Presiden Rusia Vladimir Putin. Mereka juga menjadi bagian dari Garda Nasional Rusia dan beroperasi di luar struktur komando militer normal serta mengambil kendali federasi di tingkat lokal.
Dilansir dari novayagazeta, penduduk Chechnya sebagian besar merupakan bagian dari resimen dan batalyon di bawah yurisdiksi Garda Nasional atau Kementerian Pertahanan.
Tapi, sekitar 90 persen anggota pasukan khusus Akhmat bukan Chechnya. Mereka adalah relawan dari seluruh Rusia yang mendaftar melalui Universitas Pasukan Khusus Rusia.
Seorang analisis data intelijen Ukraina pada unit relawan Rusia juga menegaskan, unit pasukan khusus Akhmat yang berbasis relawan terdiri atas 90 persen pejuang non-Chechnya. Otoritas Chechnya juga secara resmi telah melaporkan hal ini.
Pakar militer Israel, David Sharp juga mengklaim sebagian besar anggota Akhmat bukan berasal dari Chechnya tetapi dari wilayah lain di Rusia. Mereka juga berbeda kewarganegaraan. Orang Chechen hanya berperan sebagai petinggi dan perwira komando.
Menurut sumber Sharp di tentara Ukraina, personel Akhmat biasanya dilatih lebih baik daripada prajurit Rusia pada umumnya.