Surat kabar Yedioth Ahronoth yang dikelola kelompok Haredi melaporkan, kalangan ultra-ortodoks juga melakukan aksi mogok untuk memprotes "penganiayaan terhadap dunia Taurat".
Militer Israel kekurangan 10.000 hingga 12.000 tentara untuk perang di Gaza. Jumlah itu sebenarnya bisa diisi oleh kelompok Haredi, namun ditolak mentah-mentah.
Komunitas Ultra-Ortodoks terus memprotes wajib militer menyusul putusan Mahkamah Agung pada 25 Juni 2024 yang mewajibkan mereka mendaftar. Israel juga melarang bantuan keuangan kepada lembaga-lembaga keagamaan Yahudi yang para mahasiswanya menolak berperang.
Haredi mencakup sekitar 13 persen dari sekitar 10 juta populasi Israel. Mereka menentang wajib militer atas alasan agama, mempelajari Taurat adalah tugas utama mereka dan bahwa integrasi ke dalam masyarakat sekuler bisa mengancam identitas dan kohesi komunitas mereka.