Rusia Dituduh Jadi Dalang Serangan Siber di Australia

Nathania Riris Michico
Ilustrasi peretas.

CANBERRA, iNews.id - Pihak berwenangan Australia menyatakan perusahaan-perusahaan di negaranya menjadi korban serangan siber yang diduga dilakukan oleh Rusia. Serangan tersebut menargetkan jutaan komputer di seluruh dunia.

Amerika Serikat (AS), Inggris, dan Australia menuduh para peretas yang didukung Pemerintah Rusia menyerang router komputer di seluruh dunia melalui spionase dunia maya, yang menargetkan lembaga pemerintah, bisnis, dan operator infrastruktur.

Pusat Keamanan Siber Australia sudah menginformasikan perusahaan-perusahaan yang didiga menjadi korban serangan tersebut.

Di Australia, ratusan perusahaan menjadi korban serangan siber pada 2017. Serangan ini menargetkan router yang merupakan bagian penting dari infrastruktur internet.

Menteri Urusan Keamanan Siber Australia Angus Taylor mengatakan sejumlah besar lembaga di Australia terkena serangan ini.

"Router yang tersedia secara komersial digunakan sebagai titik masuk. Ini menunjukkan setiap perangkat yang terhubung sangat rentan terhadap aktivitas berbahaya," kata Taylor, seperti dilansir Australia Plus ABC, Selasa (17/4/2018).

"Upaya Rusia ini menjadi peringatan bahwa perusahaan dan individu Australia terus-menerus menjadi sasaran aktor jahat, baik negara maupun non-negara. Kita harus mempertahankan praktik keamanan siber yang ketat," ujar dia, menambahkan.

Para pejabat AS dan Inggris mengeluarkan peringatan bersama terkait hal ini. Target utama dari penyerangan ini merupakan organisasi pemerintahan dan swasta; penyedia infrastruktur penting; serta penyedia layanan internet yang mendukung sektor-sektor ini.

"Secara khusus, eksploitasi siber ini diarahkan pada perangkat infrastruktur jaringan di seluruh dunia seperti router, switch, firewall, dan Network Intrusion Detection System (NIDS). Vendor perangkat jaringan, ISP, organisasi sektor publik, perusahaan swasta dan kantor kecil atau kantor rumahan harus membaca peringatan (TA18-106A) dan mengikuti strategi mitigasi yang direkomendasikan," demikian isi pernyataan tersebut.

Laporan itu menuduh aktor yang disponsori Rusia menggunakan router untuk mendukung spionase, mengambil properti intelektual, dan mempertahankan akses ke jaringan milik korbannya.

Wakil asisten direktur FBI, Howard Marshall mengatakan, serangan itu adalah bagian dari pola berulang yang dilakukan Pemerintah Rusia.

Secara terpisah, Pemerintah AS dan Inggris menyatakan akan memberikan rincian teknis terkait serangan ini agar lembaga yang diduga menjadi korban dapat menyelidiki apakah mereka diretas. Hal ini juga supaya perusahaan-perusahaan bisa mencegah upaya yang sama di masa depan.

Para pejabat AS dan Inggris menyebut router yang terinfeksi dapat digunakan untuk meluncurkan operasi siber ofensif di masa depan.

Gedung Putih pada Februari lalu menyalahkan Rusia atas serangan "NotPetya" pada 2017 dan bersama Inggris mengutuk Rusia karena melepaskan virus yang melumpuhkan sejumlah infrastruktur Ukraina dan merusak komputer di berbagai negara.

Badan-badan intelijen AS juga menyimpulkan Rusia ikut campur dalam kampanye Pilpres AS 2016 namun Rusia membantah tuduhan tersebut.

Editor : Nathania Riris Michico
Artikel Terkait
13 jam lalu

Desak Diplomat dan Warga Asing Segera Tinggalkan Ukraina, Rusia: Kami Tak Tanggung Akibatnya!

15 jam lalu

Minta Warga Asing Segera Tinggalkan Ukraina, Putin Janjikan Pembalasan Dahsyat

16 jam lalu

Gawat! Rusia Peringatkan Diplomat dan Warga  Asing Segera Tinggalkan Ukraina

5 hari lalu

Pesawat Pengebom Strategis Rusia Tu-95 Jatuh, 6 Kru Tewas

Berita Terkini
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
Network Updates
News updates from 99+ regions
Personalize Your News
Get your customized local news
Login to enjoy more features and let the fun begin.
Kanal