Permintaan Domestik Meledak, Pesanan Negara Lain Tetap Mengalir
Meski akses pasar internasional dibatasi, permintaan militer domestik Rusia meningkat tajam. Kremlin memperluas anggaran pertahanannya untuk menopang operasi di Ukraina, termasuk produksi amunisi artileri skala besar, tank dan kendaraan tempur, kapal perang, dan sistem pertahanan udara.
Rostec, misalnya, meningkatkan produksi rudal, drone, dan sistem elektronik tempur secara masif sepanjang 2024.
Selain itu, Rusia masih memiliki pasar setia di sejumlah negara Asia, Afrika, dan Timur Tengah yang tidak bergabung dalam sanksi Barat, sehingga penjualan ekspor tetap berjalan di level signifikan.
Secara global, pendapatan industri persenjataan dunia naik menjadi 679 miliar dolar AS pada 2024 atau lebih dari Rp11.700 triliun. Perusahaan AS dan Eropa mendominasi naiknya angka tersebut, namun Rusia menjadi pengecualian yang paling mencolok karena lonjakannya terjadi bukan karena aliansi, melainkan tekanan.
Di tengah upaya melemahkan kemampuan militernya, Rusia menunjukkan bahwa sanksi tidak menghambat, bahkan mungkin memperkuat, kapasitas produksi senjatanya.