KARAKAS, iNews.id - Sebagian warga Venezuela yang berada di luar negeri menyambut dengan sukacita serangan militer Amerika Serikat (AS) ke Ibu Kota Karakas pada Sabtu (3/1/2026) dini hari. Mereka adalah warga yang menentang pemerintahan Presiden Nicolas Maduro.
Pasukan elite anti-teror AS Delta Force menangkap Maduro dan istrinya, Cilia Flores, lalu membawa mereka ke New York untuk menghadapi dakwaan atas tuduhan kejahatan narkoba dan senjata.
Warga Venezuela, baik yang sudah mendapat kewarganegaraan AS atau belum, turun ke jalan di kota-kota AS pada Sabtu setelah serangan besar-besaran mengguncang Ibu Kota Karakas. Mereka meluapkan rasa sukacita atas serangan tersebut, bahkan tidak sedikit yang menangis.
Sebagian keluar rumah masih mengenakan baju tidur sambil menari-nari, bernyani, serta mengibarkan bendera Venezuela.
“Terima kasih, Tuhan, terima kasih presiden Amerika Serikat. Saya telah menunggu selama bertahun-tahun. Dia (Maduro) melakukan begitu banyak kerusakan. Ini mengerikan,” kata Yajaira, seorang warga Amerika keturunan Venezuela asal Kota Maracaibo, seperti dikutip dari NBC News, Minggu (4/1/2026).
Perayaan terlihat di depan El Arepazo, restoran di Kota Doral, Miami-Dade County, Florida. Kota tersebut dihuni oleh banyak warga Venezuela.
“Kami sudah tinggal di sini 8 tahun. Mereka membunuh kakak laki-laki saya. Ini sangat berat. Mereka menculik saudara-saudara saya. Ini berat. Saya bersyukur kepada Tuhan atas semua ini karena ini sangat berat,” kata Yajaira.
Perayaan berlangsung sampai Sabtu pagi, bahkan kerumunan semakin ramai di Doral. Massa meneriakkan yel-yel dalam bahasa Spanyol.
“Pemerintahan (Maduro) telah berakhir. Pemerintah telah tumbang,” demikian teriakan massa.
Sejumlah besar warga Venezuela berdatangan ke Florida dan wilayah lain di AS sejak awal 2000-an, ditandai dengan berkuasanya politisi sosialis Hugo Chavez. Situasi memburuk drastis setelah Maduro mengambil alih kekuasaan pada 2013. Di bawah Maduro, ekonomi negara yang bergantung pada minyak itu mengalami keruntuhan. Diperkirakan sekitar 80 persen penduduk hidup dalam kemiskinan.