“Anda perlu menganalisis darah ibu, cairan ketuban, darah bayi baru lahir, plasenta, dan sebagainya (untuk memperoleh kesimpulan),” kata De Luca.
“Mendapatkan semua sampel ini selama pandemi dengan keadaan darurat di mana-mana tidaklah mudah. Inilah mengapa hal itu dicurigai tetapi tidak pernah ditunjukkan,” tuturnya.
De Luca dan timnya mengumpulkan data tersebut untuk kasus seorang perempuan hamil berusia 20-an tahun yang dirawat di rumah sakitnya pada awal Maret lalu. Karena bayi itu dilahirkan melalui operasi caesar, semua sumber potensial dan reservoir virus tetap utuh untuk diteliti.
Para peneliti lalu menemukan, terdapat konsentrasi SARS-CoV-2 atau Covid-19 paling tinggi di plasenta.
“Dari sana, dia melewati tali pusar ke bayi, tempat dia berkembang. Itulah yang menjadi jalur transmisi (penularannya),” kata De Luca.