Selama ini warga asing yang ke Saudi biasanya bertujuan untuk beribadah, baik umroh maupun haji. Selain itu, ada pula untuk kepentingan bekerja dan untuk sekadar urusan bisnis singkat. Di samping itu, Saudi juga menerima banyak mahasiswa dari negara muslim.
Rencana untuk membuka pintu bagi pengunjung turis telah dibahas selama bertahun-tahun, meski sempat ditolak kalangan konservatif.
Sejak 2 tahun terakhir, Pemerintah Arab Saudi melakukan perubahan besar-besaran untuk mendukung Visi 2030.
Putra Mahkota Pangeran Mohammed bin Salman (MBS) melakukan perubahan untuk menjadikan Saudi sebagai negara lebih ramah bagi masyarakat luar. Di antara aturan yang diubah adalah diperbolehkannya perempuan menyetir mobil, hadir di stadion untuk menonton pertandingan olahraga, serta dalam bidang pekerjaan. Bioskop juga sudah diperbolehkan.
Pada Desember 2018, Saudi memberlakukan e-visa untuk acara olahraga dan konser.
Pariwisata masuk dalam prioritas utama Pangeran MBS meskipun pembangunan infrastruktur masih digenjot. Untuk mendorong pertumbuhan, Khateeb menyebut Saudi membutuhkan investasi sebesar 250 miliar riyal, termasuk pengadaan 500.000 kamar hotel baru pada 2030. Setengah dari proyek ini menggunakan dana pemerintah sisanya investor swasta.
Pemerintah menargetkan 100 juta kunjungan per tahun pada 2030, naik dari sekitar 40 juta saat ini. Kontribusi terhadap PDB juga ditargetkan naik yakni menjadi 10 persen dari sebelumnya hanya 3 persen.