Iran disebut telah mengisyaratkan fleksibilitas dalam masalah nuklir. Namun, kedua pihak masih belum mencapai kesepakatan mengenai jadwal pelaksanaan komitmen yang akan mereka sepakati.
Sikap Trump tersebut menunjukkan bahwa tawaran pembukaan Selat Hormuz belum cukup untuk membuat Washington memberikan konsesi kepada Teheran. Persoalan nuklir tetap menjadi salah satu kunci dalam pembicaraan kedua negara.
Pada Minggu (27/9/2026), Trump mengatakan kepada Axios bahwa dia memperkirakan pembicaraan dengan Iran akan kembali digelar sepanjang pekan mendatang.
Perundingan tersebut melibatkan sejumlah pejabat penting AS, termasuk Utusan Khusus Steve Witkoff, penasihat Trump Jared Kushner, Wakil Presiden JD Vance, serta Menteri Luar Negeri Marco Rubio.
Trump mengatakan Iran memang menginginkan kesepakatan, tetapi menurutnya proposal yang diajukan Teheran masih terlalu jauh dari posisi yang dapat diterima Washington.
"Mereka ingin mencapai kesepakatan, tapi bukan kesepakatan yang saya buat. Itu adalah kesepakatan yang mungkin saja kita setujui setahun lalu. Mereka terlalu memaksakan posisi tawar sendiri," ujar Trump.
Dengan demikian, pembukaan kembali Selat Hormuz belum otomatis membuka jalan bagi tercapainya kesepakatan lebih luas antara AS dan Iran. Washington masih menuntut kemajuan dalam persoalan nuklir, sementara Teheran disebut masih berusaha mempertahankan posisi tawarnya dalam perundingan.