Perjanjian yang sudah berlangsung lama itu telah menimbulkan kecemburuan dan kebencian di kalangan masyarakat luas. Sentimen itu semakin kuat tatkala perang berkecamuk selama delapan bulan di Jalur Gaza. Lebih dari 600 tentara tewas dalam pertempuran, dan puluhan ribu tentara cadangan telah diaktifkan, sehingga menjungkirbalikkan karier, bisnis, dan kehidupan orang-orang Israel.
Sementara partai-partai ultra-Ortodoks dan para pengikutnya mengatakan, memaksa anggota mereka untuk menjadi tentara akan menghancurkan cara hidup mereka yang sudah lama ada.
Akan tetapi, para pemimpin partai tersebut sampai kini belum menyatakan apakah mereka akan tetap berada atau meninggalkan pemerintahan Netanyahu. Jika mereka memutuskan keluar dari koalisi, hal itu tentu dapat berisiko secara politik, baik bagi partai-partai ultra-Ortodoks maupun Netanyahu sendiri. Sebab, popularitas koalisi mereka terus menurun sejak 7 Oktober lalu.