TEHERAN, iNews.id - Ketegangan di kawasan Teluk Persia kian memanas setelah Iran menutup Selat Hormuz dan menegaskan tak ada satu pun kapal yang diizinkan melintas. Langkah drastis ini disertai serangan rudal terhadap sedikitnya 10 kapal tanker minyak yang nekat menerobos jalur vital tersebut.
Penasihat Korps Garda Revousi Islam Iran (IRGC) Ibrahim Jabari mengatakan penutupan Selat Hormuz bisa memukul perekonomian global, termasuk AS. Dia menuding AS sebagai negara yang rakus akan minyak dan menjadi pemicu eskalasi.
“Amerika Serikat rakus akan minyak. Beri tahu mereka bahwa kami sekarang telah menutup Selat Hormuz dan tidak akan mengizinkan kapal-kapal melewatinya,” kata Jabari, dikutip dari Fars, Rabu (4/3/2026).
Dia memperkirakan dampak penutupan jalur laut strategis itu bisa mendongkrak harga minyak dunia menjadi 200 dolar AS per barel, yang berpotensi mengguncang perekonomian global, termasuk AS.
Selat Hormuz merupakan jalur sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab. Pantai utaranya dikuasai Iran, sementara pantai selatan berbatasan dengan Uni Emirat Arab dan Oman. Jalur ini menjadi salah satu urat nadi distribusi minyak mentah dan gas alam cair (LNG) dunia.
Sementara itu, laporan Al Jazeera yang mengutip sumber pelabuhan Irak menyebutkan, biaya pengiriman laut ke Irak melonjak hingga 60 persen akibat kenaikan premi asuransi. Tujuh kapal tanker minyak dilaporkan masih tertahan di perairan Irak, menunggu situasi kembali aman dan Selat Hormuz dibuka.
Langkah Iran menutup Selat Hormuz ini dikhawatirkan memicu krisis energi global dan memperbesar risiko konflik terbuka di kawasan Timur Tengah.