Pengalaman serupa juga dirasakan warga di Kota Hachinohe, Prefektur Aomori. Banyak dari mereka berlarian keluar rumah sambil berpegangan pada tembok atau tiang karena kaki sulit menopang tubuh akibat guncangan yang intens.
Menurut pihak berwenang, gerakan tanah berperiode panjang terekam selama gempa bumi pada Senin. Gerakan tersebut merupakan gelombang seismik lambat beramplitudo besar dengan frekuensi 2 detik atau lebih yang terjadi selama gempa bumi besar.
Guncangan ini memiliki dampak signifikan pada gedung-gedung tinggi.
Gerakan berperiode panjang yang kuat, diklasifikasikan sebagai level 3, tertinggi kedua dari skala 4 level, teramati di Rokkasho, Prefektur Aomori. Gelombang level 3 tersebut cukup kuat untuk menyulitkan orang-orang di gedung tinggi untuk berdiri.
Kerusakan dan Luka-Luka
Badan Penanggulangan Kebakaran dan Bencana Jepang melaporkan sedikitnya 23 orang luka, satu di antaranya dalam kondisi serius. Meski ada tsunami, namun mayoritas korban luka disebabkan tertimpa pecahan langit-langit atau benda yang jatuh saat guncangan mengguncang bangunan.
Di Hachinohe, pecahan kaca terlihat berserakan di jalanan. Sejumlah tamu hotel harus dilarikan ke rumah sakit, meski semuanya dilaporkan dalam kondisi sadar. Seorang pengendara mobil juga mengalami luka setelah kendaraannya terjerumus ke dalam lubang yang terbentuk akibat gempa.