Masa inkubasi penyakit pes umumnya berkisar antara satu hingga tujuh hari. WHO menyebut penyakit ini dapat menjadi sangat berat, terutama apabila tidak segera ditangani.
Namun, pes bukan penyakit yang tidak dapat diobati. WHO menegaskan antibiotik efektif untuk melawan bakteri penyebab pes sehingga diagnosis dan pengobatan secara dini sangat penting untuk menyelamatkan nyawa.
WHO hingga kini belum menyatakan kasus di Siberia sebagai wabah pes yang menyebar luas. Penilaian risiko terhadap masyarakat umum yang masih tergolong rendah juga menjadi alasan agar publik tidak langsung menyimpulkan kasus tersebut sebagai ancaman pandemi baru.
Terlebih, penyebab kematian pekerja laboratorium tersebut masih dalam penyelidikan. Otoritas Rusia menyatakan situasi epidemiologis di wilayah Irkutsk dan Shelekhov tetap stabil setelah dilakukan pemantauan terhadap orang-orang yang memiliki kontak dengan korban.
Di sisi lain, kewaspadaan tetap diperlukan. Pes pneumonik memang dapat menular melalui partikel pernapasan, sehingga orang yang mengalami gejala dan memiliki riwayat paparan perlu segera mendapatkan pemeriksaan medis.
WHO juga mencatat pes masih menjadi penyakit endemis di sejumlah negara. Dalam laporan terbarunya, WHO mencatat bahwa sepanjang 2019 hingga 2025 terdapat ribuan kasus suspek pes yang dilaporkan dari sejumlah negara, dengan kasus terkonfirmasi terutama berasal dari wilayah endemis seperti Republik Demokratik Kongo dan Madagaskar.
Dengan kondisi tersebut, masyarakat Indonesia tidak perlu panik akibat kasus dugaan pes di Rusia. Namun, perkembangan situasi tetap perlu dipantau sambil menunggu hasil penyelidikan dan konfirmasi lebih lanjut dari otoritas kesehatan Rusia maupun lembaga kesehatan internasional.