Kisah Kemal Idris Si Jenderal Sampah, Mengadu ke Presiden Soeharto Gara-gara Dipungli di Jakarta

Rizal Bomantama
Letjen TNI (Purn) Kemal Idris yang dijuluki si Jenderal Sampah. (Foto: Istimewa)

"Sulit membayangkan, setiap kali memperoleh tanda tangan, saya harus mengeluarkan uang Rp50.000 sampai dengan Rp150.000. Misalkan untuk satu tanda tangan saya harus membayar Rp100.000, maka untuk satu proyek, saya harus mengeluarkan uang Rp15.400.000," katanya.

Bagi Kemal Idris, hambatan pungli yang dia alami sungguh kenyataan yang sangat ironis. Mentalitas pelaku pungli benar-benar sangat bobrok. Apalagi, perusahaannya tidak mengejar keuntungan yang berlebihan.

"Bahkan saya sendiri sebagai direktur tidak menuntut harus menerima gaji dari perusahaan. Misalnya saja, dalam dua tahun, perusahaan hanya memperoleh keuntungan lima juta rupiah dan hasil itu pun dimanfaatkan untuk semua kepentingan karyawan." katanya.

Karena kecewanya, Kemal Idris mengadukan soal dirinya yang dipungli kepada Presiden Soeharto. Dia menceritakan banyaknya hambatan yang dia alami.

"Suatu hari di bulan Desember 1993, dalam suatu pertemuan, saya bertemu dengan Pak Harto. Apa yang saya alami, saya sampaikan kepada Bapak Presiden," kata Kemal Idris.

Editor : Maria Christina
Artikel Terkait
4 hari lalu

Purbaya Ingatkan Pramono Risiko Terbitkan Obligasi Daerah: Jangan Utang, Berapa Tahun Lagi Susah

7 hari lalu

6.500 Km Kabel Semrawut bakal Masuk Bawah Tanah, Pramono: Wajah Jakarta akan Sangat Berbeda

9 hari lalu

Sekolah di Jakarta Mulai Belajar Tatap Muka Besok, Siswa Diminta Tetap Pakai Masker

10 hari lalu

Polisi Mediasi Kasus Pungli Loker di Pasar Minggu, Perusahaan Kembalikan Uang Pelamar

Berita Terkini
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
Network Updates
News updates from 99+ regions
Personalize Your News
Get your customized local news
Login to enjoy more features and let the fun begin.
Kanal