Dia menuturkan, pada tahap awal pemerintah daerah memilih memulai pembangunan tanpa melibatkan investor. Pertimbangan itu diambil karena kepercayaan investor terhadap Indonesia, khususnya Jakarta, belum sepenuhnya pulih pascagejolak 1998.
"Jadi saya tanya kepada tim itu, 'Ini moda apa yang nggak perlu investor?'. Dijawab jelas 'busway, Pak' gitu. Oleh karena itu saya mulai dengan busway. Nah untuk mengejar kecepatan menanggulangi kemacetan ini, secara paralel kita bangun juga monorel gitu kan," ucapnya.
Menurut Bang Yos, proyek monorel tersebut sempat dicanangkan oleh Presiden Megawati Sukarnoputri pada 2004. Namun, proyek itu terhenti pada 2007 dan akhirnya mangkrak selama bertahun-tahun.
"Nah terus akibatnya saya tidak tahu terus mangkrak jadi besi tua seperti ini," ujar Bang Yos.
Pada 2014 proyek monorel digantikan dengan pembangunan LRT, meski sebelumnya tidak masuk dalam rencana awal. Sejak saat itu, tiang-tiang monorel dibiarkan terbengkalai dan dinilai merusak estetika kota.
"Dan tahun 2014 monorel ini diganti dengan LRT yang tidak ada rencana sebelumnya. Tentu gubernur waktu itu punya alasan yang saya tidak tahu ya. Nah sejak itulah mangkrak total ini dari besi tua, jadi barang seperti ini yang merusak estetika kota gitu," tambahnya.