Kepada penyidik, pelaku TRM berdalih, aksi bejat itu dilakukan lantaran sakit hati kepada istrinya atau ibu kandung korban setelah diceraikan tujuh tahun lalu. Meski korban memilih tinggal bersama ibunya usai pelaku bercerai, TA kerap disetubuhi saat mengunjungi ayah kandungnya.
“Ada ancaman, akan diusir dan tidak diakui sebagai anak jika menolak atau melaporkan perbuatannya kepada orang lain. Korban juga diiming-imingi akan dibelikan baju baru,” tuturnya.
Hasil pemeriksaan penyidik, tersangka kerap menenggak minuman keras terlebih dahulu sebelum memperkosa anaknya. Pelaku mengaku telah melakukan pemerkosaan selama lima kali.
“Kalau melihat anaknya teringat istrinya, jadi sakit hati itu muncul dan tega melakukan itu,” ujarnya.
Akibat perbuatannya TRM, korban mengalami depresi hingga memilih putus sekolah di bangku SMP. Untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, tersangka kini mendekam di tahanan Polsek Penjaringan.
“Pelaku kami kenakan Undang-Undang Tahun 2014 Nomor 35 tentang Perlindungan Anak dengan ancaman 15 tahun penjara,” ucap Rachmat.