JAKARTA, iNews.id– 10 Tradisi Ekstrem di Indonesia bikin kamu merinding. Dari kerik gigi hingga potong jari,semua masih tetap dilestarikan hingga kini.
Diketahui, Indonesia dikenal sebagai negara yang memiliki keragaman suku dan budaya. Tiap-tiap suku di Indonesia memiliki tradisinya masing-masing.
Berikut ini tradisi ekstrem di Indonesia yang telah dirangkum iNews.id dari berbagai sumber.
Tradisi potong jari atau Iki Palek merupakan tradisi suku Dani, Papua. Meski dianggap ekstrem, tradisi Iki Palek ini ternyata memiliki makna mendalam.
Bagi Suku Dani, potong jari dilakukan untuk menunjukkan kesedihan yang mendalam saat ada anggota keluarga yang meninggal.
Jari bagi Suku Dani merupakan simbol dari keturunan, persatuan, dan kekuatan baik dalam diri manusia maupun keluarga.
Jumlah jari yang dipotong menandakan jumlah anggota keluarga yang meninggal. Tradisi ini sebagian besar dilakukan oleh kaum perempuan Suku Dani.
Tradisi Makare-kare merupakan tradisi yang berasal dari Desa Tenganan, Karangasem, Bali. Dalam tradisi ini, pria-pria dari desa tersebut akan melakukan pertunjukan perang dengan menggunakan daun pandan berduri sebagai senjata serta perisai rotan untuk menangkis serangan lawan.
Dikutip dari Dapobas Kemdikbud, tradisi perang pandan ini merupakan bagian dari ritual pemujaan masyarakat Tenganan kepada Dewa Indra.
Setelah selesai ritual ini, semua luka yang dialami peserta akan diobati dengan ramuan tradisional berbahan kunyit yang dipercaya ampuh menyembuhkan luka dengan cepat.
Tradisi ekstrem di Indonesia selanjutnya adalah pasola yang berasal dari Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur. Dikutip dari laman Pemerintah Kabupaten Sumba Barat, pasola berasal dari sola atau hola yang berarti kayu lembing.
Pasola merupakan tradisi perang adat dimana dua kelompok penunggang kuda saling berhadapan dan saling menyerang menggunakan lembing kayu. Darah yang jatuh di arena pasola ini oleh masyarakat setempat dianggap mampu membuat tanah menjadi subur sehingga hasil panen berlimpah.
Tradisi yang satu ini memang sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Indonesia, khususnya warga Banten. Yap, debus memang sering menjadi ajang pertunjukan bagi masyarakat Banten.
Dalam pertunjukkan debus, setiap anggotanya akan melakukan beberapa adegan ekstrim. Misalnya menusuk perut dengan tombak, menyayat bagian anggota tubuh dengan golok, memakan api, memasukkan jarum kawat ke dalam lidah, kulit pipi dan anggota tubuh lainnya hingga tembus tanpa mengeluarkan tetes darah.
Tradisi Tatung berasal dari Singkawang, Kalimantan barat. Istilah tatung sendiri disematkan untuk orang yang tubuhnya dijadikan media untuk dimasuki roh leluhur yang mereka percayai.
Tradisi ini hampir serupa dengan debus, dimana para Tatung akan melakukan adegan-adegan berbahaya seperti menusuk tubuh mereka dengan benda tajam.
Pawai Tatung biasanya dilakukan untuk merayakan Cap Go Meh di Singkawang.
Suku Dayak juga memiliki tradisi yang tak kalah mengerikan, yakni Ngayau atau Kayau yang dalam bahasa Dayak artinya musuh. Oleh karena itu, Ngayau dapat diartikan sebagai tradisi berburu kepala musuh oleh Suku Dayak di Kalimantan.
Menurut kepercayaan mereka , memenggal kepala musuh bisa menghindarkan diri dari gangguan roh musuh. Pemburu-pemburu kepala yang berhasil ini kemudian berhak memakai gigi macan kumbang di telinganya, hiasan kepala dari bulu burung enggang, dan sebuah tato dengan desain khusus.