Amir Syarifuddin Harahap, seorang tokoh pemuda yang berasal dari organisasi Jong Batak Bond dan memiliki sikap yang sangat anti-Jepang, menjabat sebagai Bendahara dalam Kongres Pemuda II.
Mohammad Yamin, pemuda asal Minangkabau dan tokoh Jong Sumatranen Bond, terkenal sebagai sastrawan, sejarawan, budayawan, politikus, dan ahli hukum. M. Yamin mengusulkan agar Bahasa Indonesia dijadikan bahasa persatuan dalam ikrar Sumpah Pemuda.
Dalam Kongres Pemuda II, Djoko Marsaid berperan sebagai wakil ketua.
Soegondo Djojopoespito memimpin jalannya kegiatan Kongres Pemuda II sebagai ketua, dan terpilih atas persetujuan Mohammad Hatta karena menjadi anggota Persatuan Pemuda Indonesia (PPI).
Johannes Leimena, anggota panitia Kongres Pemuda I dan II, adalah seorang dokter dan politisi dari Jong Ambon.
Sarmidi Mangoensarkoro aktif dalam membahas pendidikan untuk rakyat Indonesia pada Kongres Pemuda I dan II. Selain itu, ia juga menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia dari tahun 1949 hingga 1950.