JAKARTA, iNews.id - Sebanyak 7 juta orang terdeteksi mengalami hipertensi melalui skrining kesehatan yang dilakukan pemerintah pada 2025. Namun, dari jutaan orang tersebut, baru sekitar 755 ribu yang mendapatkan pengobatan. Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin pun mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan hasil pemeriksaan dan segera menjalani pengobatan.
Budi mengungkapkan, angka tersebut menunjukkan masih besarnya kesenjangan antara deteksi dini penyakit dan tindak lanjut medis. Padahal, hipertensi merupakan salah satu faktor risiko penyakit serius, seperti stroke, penyakit jantung, dan gangguan ginjal.
“Jadi tahun lalu diskrining 73 juta, yang ketemu hipertensi itu 7 juta. Hipertensi ini kemudian dikasih obat, yang dia harus minum setiap hari. Yang diobati adalah 755.000. Masih kecil,” ujar Budi dalam konferensi pers dua tahun pemerintahan di bidang kesehatan di Auditorium Leimena, Gedung Adhyatma, Kementerian Kesehatan, Jakarta Selatan, Kamis (22/10/2026).
Menurut Budi, pemerintah menargetkan 80 persen masyarakat yang terdeteksi mengalami hipertensi dapat memperoleh pengobatan. Dengan sekitar 7 juta orang teridentifikasi memiliki tekanan darah tinggi, setidaknya 5,6 juta orang diharapkan mendapatkan penanganan.
Namun, realisasi pengobatan yang baru mencapai sekitar 755 ribu orang masih jauh dari target tersebut.