“Ini harusnya angkanya tuh 5,6 juta. Sekarang kita baru 755.000. Itu PR-nya kita,” kata Budi.
Dia menegaskan, masyarakat yang terdeteksi mengalami hipertensi dapat mengakses pengobatan secara gratis melalui puskesmas. Karena itu, masyarakat diharapkan tidak berhenti pada pemeriksaan kesehatan, tetapi melanjutkan dengan konsultasi dan pengobatan sesuai kebutuhan medis.
Budi menjelaskan, pasien hipertensi perlu menjalani pengobatan secara rutin serta memeriksakan tekanan darah setiap bulan. Pemantauan berkala diperlukan untuk mengetahui efektivitas pengobatan dan memastikan tekanan darah dapat terkendali.
“Padahal pengobatan ini sifatnya gratis, bisa dilakukan di Puskesmas. Nanti diharapkan sesudah berapa bulan kita kontrol, karena begitu dia diobati, tiap bulan harus diukur tuh tekanan darahnya,” ujarnya.
Kementerian Kesehatan juga tengah mengumpulkan data untuk mengevaluasi perkembangan pasien setelah menjalani pengobatan. Evaluasi ini diperlukan agar pemerintah dapat mengetahui sejauh mana penanganan hipertensi berhasil memperbaiki kondisi kesehatan masyarakat.