Menurut Puan, pemerintah perlu menentukan prioritas penanganan berdasarkan tingkat dampak yang dirasakan masyarakat. Keluarga yang memiliki keterbatasan dalam melindungi anak dari paparan asap juga harus mendapatkan perhatian lebih besar.
Dia mengingatkan, penanganan kesehatan anak tidak boleh berhenti ketika kebakaran mulai terkendali atau kualitas udara berangsur membaik. Pemerintah pusat dan daerah perlu memastikan dukungan kesehatan tetap tersedia selama masa pemulihan.
“Laporan kasus pada balita yang cukup banyak perlu diikuti komitmen yang berlanjut sampai masa pemulihan. Pemerintah pusat dan daerah perlu menjaga dukungan agar kebutuhan anak yang masih berlangsung tetap memperoleh perhatian ketika keadaan udara mulai membaik dan aktivitas masyarakat berangsur kembali,” kata Puan.
Puan menambahkan, anak-anak merupakan kelompok yang rentan ketika bencana terjadi. Karena itu, mereka membutuhkan pendampingan orang dewasa serta penanganan kesehatan yang memadai ketika mengalami gangguan akibat karhutla.
“Kita ketahui bersama, anak-anak adalah kelompok yang paling rentan dalam bencana. Mereka juga tidak berdaya tanpa bantuan orang dewasa sehingga membutuhkan pertolongan saat mengalami krisis kesehatan,” ujarnya.