Situasi makin memanas dan Luke mengeluarkan telepon seluler (HP) miliknya untuk mendokumentasikan kejadian tersebut. Terduga pelaku yang panik lantaran enggan direkam berusaha merebut dan membanting HP korban hingga terjadi kontak fisik.
Perselisihan tersebut berujung pada aksi kekerasan fisik di tangga akses menuju halte Transjakarta. Pelaku mencekik leher Luke dan melayangkan pukulan keras ke arah wajah.
"Pukulan itu mengenai bagian bawah mata saya sampai robek. Setelah dianalisis dokter bedah plastik, lukanya hampir mengenai tulang. Beruntung tidak sampai kena tulang, tapi tetap harus dijahit oleh dokter spesialis bedah plastik," kata Luke.
Tak hanya diserang pelaku pria, Luke mengaku mendapat tindakan kekerasan dari pelaku perempuan yang mencengkeram dan mencakar wajahnya hingga meninggalkan bekas luka garukan. Aksi penganiayaan berhenti setelah petugas halte Transjakarta melerai dan memberikan pertolongan pertama kepadanya.
Kendati mengalami penganiayaan fisik, Luke memutuskan tidak melaporkan insiden kekerasan tersebut ke pihak kepolisian. Dia mengaku enggan menghabiskan waktu untuk mengurus proses hukum terhadap orang yang tidak dikenalnya.
"Saya tidak melapor ke polisi karena prosesnya ribet dan memakan waktu. Ini jadi pelajaran bagi kita semua, kalau eskalasi konflik di jalanan sudah memanas, lebih baik mundur. Meski begitu, kejadian ini tidak akan menghentikan saya untuk terus berjuang mengungkapkan kebenaran dengan data valid," katanya.