"Untuk pertama kali dalam sejarah Republik Indonesia, Indonesia punya bank emas (bullion), yang sekarang sudah mengelola 153 ton emas," kata Prabowo.
Angka itu menunjukkan perubahan cara pemerintah memandang emas. Komoditas tersebut tidak lagi hanya dilihat dari berapa banyak yang bisa digali dari dalam bumi, tetapi juga dari seberapa panjang rantai nilai yang dapat dibangun setelah emas keluar dari tambang.
Di sisi hulu, Indonesia memang memiliki modal besar. Data Mineral Commodity Summaries 2026 dari United States Geological Survey (USGS) memperkirakan produksi tambang emas Indonesia mencapai 90 ton pada 2025. Sementara itu, cadangan emas Indonesia diperkirakan sekitar 3.600 ton.
Cadangan tersebut membuat emas menjadi salah satu kekayaan mineral strategis Indonesia. Tetapi memiliki cadangan besar tidak otomatis berarti seluruh nilai ekonominya dinikmati di dalam negeri. Tantangannya adalah membangun mata rantai yang menghubungkan pertambangan, pemurnian, perdagangan, penyimpanan, pembiayaan hingga investasi.
Konsep itu bisa disebut sebagai ekosistem bulion. Kementerian Koordinator Perekonomian menjelaskan ekosistem tersebut membutuhkan keterhubungan antara sektor hulu dan hilir, termasuk pasokan emas fisik yang aman, bertanggung jawab dan masuk ke jalur formal.