“Pengembangan ini akan memperkuat posisi logam mulia Antam yang saat ini memiliki pangsa pasar 60 persen, sekaligus meningkatkan kapasitas Antam dalam memenuhi permintaan pasar domestik,” sambungnya.
Arini menilai peningkatan kapasitas manufaktur menjadi langkah penting untuk menangkap pertumbuhan permintaan emas di dalam negeri. Tambahan kapasitas produksi diharapkan mampu memperbesar kemampuan Antam memanfaatkan pertumbuhan pasar tanpa hanya mengandalkan kenaikan harga emas.
“Dengan strong brand, market leadership, trusted product quality, serta kapasitas kami yang terus tumbuh dan diperkuat, kami merasa masih banyak ruang pertumbuhan yang menarik dan Insya Allah berkelanjutan bagi bisnis logam mulia Antam,” katanya.
Selain pabrik baru di Gresik, Antam mengoperasikan fasilitas pemurnian Logam Mulia yang telah mengantongi sertifikasi London Bullion Market Association (LBMA). Manajemen menilai reputasi fasilitas pemurnian tersebut menjadi salah satu fondasi kepercayaan terhadap produk emas Antam.
Secara keseluruhan, Antam membukukan pendapatan sekitar Rp62,7 triliun pada semester I 2026. Angka tersebut tumbuh 6 persen secara tahunan.
Laba bersih perseroan mencapai sekitar Rp6,9 triliun atau meningkat 34 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Segmen emas menjadi penyumbang terbesar pendapatan Antam dengan kontribusi sekitar 79 persen atau setara Rp26,4 triliun. Selanjutnya, segmen nikel menyumbang 18 persen atau Rp5,9 triliun dan bauxite 3 persen atau sekitar Rp1 triliun.itu