Di sektor kelistrikan, Aries menyebut tarif listrik rumah tangga di Indonesia juga tidak mengalami kenaikan. Berbeda dengan sejumlah negara seperti Mesir yang menaikkan tarif hingga 29,9 persen untuk pelanggan konsumsi tinggi, Sri Lanka 26,5 persen, Türkiye 25 persen, Bangladesh sedikitnya 18,1 persen, dan Inggris sekitar 5,7 persen.
Tak hanya energi, harga beras di Indonesia juga dinilai relatif stabil ketika sejumlah negara mengalami lonjakan harga. Sudan mencatat kenaikan antara 40 hingga 55 persen, Sudan Selatan 30 hingga 45 persen, Iran 25 hingga 35 persen, Myanmar 18 hingga 25 persen, dan Nigeria 12 hingga 20 persen.
Sementara itu, untuk komoditas daging ayam, Aries mengungkapkan Indonesia justru mencatat penurunan harga sekitar 3 persen. Sebaliknya, India mengalami kenaikan 20–25 persen, Pakistan sekitar 19 persen, Türkiye hingga 15 persen, dan Afrika Selatan sekitar 11 persen.
Aries menegaskan, kemampuan Indonesia menjaga stabilitas harga menjadi faktor penting dalam mempertahankan daya beli masyarakat di tengah ketidakpastian global.
"Stabilitas harga ini menjadi fondasi penting bagi pertumbuhan ekonomi nasional sekaligus memberikan kepastian bagi masyarakat dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari," ujarnya.
Data perbandingan harga tersebut mengacu pada berbagai sumber internasional, antara lain GlobalPetrolPrices, Reuters, US Bureau of Transportation Statistics, FAO, Ofgem, IEEFA, serta data pemerintah Indonesia melalui Bapanas, ESDM, PLN, dan sejumlah sumber resmi lainnya.