Dalam kesempatan yang sama praktisi sekaligus tokoh agama Buddha, Toni Yoyo, mengajak peserta memahami bahwa masa remaja merupakan waktu yang tepat untuk mengenali diri, mengembangkan kebijaksanaan, dan mempersiapkan masa depan. Dalam perspektif ajaran Buddha, hubungan yang harmonis tidak hanya dibangun atas dasar cinta, tetapi juga memerlukan kesamaan dalam keyakinan (saddhā), moralitas (sīla), kedermawanan (cāga), dan kebijaksanaan (paññā).
Toni juga menekankan pentingnya mettā atau cinta kasih dan karuṇā atau belas kasih dalam membangun hubungan. Nilai-nilai tersebut dapat diterapkan melalui kemampuan mengelola emosi, mendengarkan dengan baik, berkomunikasi tanpa menyakiti, serta mempertimbangkan dampak keputusan terhadap diri sendiri dan orang lain.
Toni berharap para pelajar Buddhis dapat memahami pentingnya mempersiapkan diri sebelum memasuki kehidupan berkeluarga. Ia mengingatkan bahwa perkawinan dini bukanlah pilihan yang bijak.
“Supaya pelajar Buddhis lebih paham untuk mempersiapkan diri dengan lebih baik, bahwa perkawinan dini itu bukanlah pilihan yang bijak,” ujar Toni.
Melalui kegiatan ini, Ditjen Bimas Buddha berharap peserta semakin memahami bahwa membangun keluarga membutuhkan kesiapan dan tanggung jawab, bukan keputusan yang diambil secara terburu-buru. Bekal pengelolaan diri, perencanaan masa depan, dan nilai-nilai kebajikan diharapkan dapat membantu generasi muda tumbuh menjadi pribadi yang bijaksana dan mandiri, serta mampu membangun keluarga yang harmonis dan berkualitas pada waktunya.