"Sehingga insentif itu yang kita berikan adalah pengurangan harga, dia harus meng-cover currency risk-nya, sehingga in total return dia better off dari 100 basis point," kata dia.
Strategi tersebut menjadi salah satu instrumen BI untuk memperkuat cadangan devisa, menjaga daya tarik aset rupiah, serta mendorong arus modal asing masuk ke pasar keuangan domestik.
Erwin mengatakan, investor asing saat ini lebih banyak memanfaatkan fasilitas Swap dibandingkan DNDF. Akumulasi transaksi kedua instrumen hedging tersebut telah mencapai sekitar 6 miliar dolar AS.
Dari total transaksi tersebut, instrumen Swap mendominasi sekitar 80 persen, sedangkan DNDF sekitar 20 persen.
"Kita ingin dia stay lebih lama, kemudian kenapa ada perbedaan antara swap, karena kita sebenarnya lebih prefer kalau mereka itu jual, kemudian cover risiko dengan membeli DNDF, tapi in total semuanya itu hitungannya kira-kira seperti itu," katanya.