Muis sempat ditangkap dan diasingkan ke Garut pada 1927 karena terlibat peristiwa pemogokan massal di Yogyakarta. Selama di Garut, Moeis menulis sebuah karya sastra populer yang berjudul Salah Asuhan.
Pada masa pendudukan Jepang, nama Abdul Muis jarang terdengar akibat menderita suatu penyakit. Pasca-kemerdekaan, namanya kembali muncul. Muis bergabung ke Majelis Persatuan Perjuangan Priangan yang berpusat di Wanaraja.
Abdul Muis mengembuskan napas terakhirnya pada 17 Juni 1959 di Bandung.
Itulah Biografi singkat Abdul Muis, sang jurnalis yang merupakan pahlawan nasional pertama Indonesia.