“Berdasarkan hasil pengukuran dan pengamatan menunjukkan bahwa aktivitas termal di lokasi manifestasi cenderung mengalami penurunan. Meskipun aktivitas termal menurun, kondisi gas di sekitar lokasi masih menunjukkan pelepasan gas vulkanik yang signifikan,” tutur Lana.
“Bau sulfur yang menyengat masih tercium pada arah angin dari lokasi manifestasi, sehingga keberadaan gas di sekitar lokasi masih berpotensi berdampak pada kesehatan apabila terpapar secara langsung, khususnya pada area arah angin,” ujarnya.
Menurutnya, kemunculan blue fire di Papandayan merupakan fenomena yang sangat jarang. Selama ini, fenomena tersebut lebih dikenal muncul di Gunung Ijen, Jawa Timur.
Kemunculan blue fire di Kawah Manuk menjadi perhatian karena lokasinya berdekatan dengan jalur pendakian utama dan area perkemahan yang menjadi salah satu tujuan wisata di kompleks Gunung Papandayan.
“Potensi bahaya yang dapat terjadi dengan kemunculan sinar api/blue-fire ini adalah semburan dan paparan gas vulkanik beracun/di atas ambang batas,” kata Lana.
Gunung Papandayan saat ini masih berstatus Level I atau Normal. Masyarakat sekitar, wisatawan, pendaki, dan pengunjung diminta tidak beraktivitas ataupun menginap di kawasan bukaan kawah aktif dalam kompleks Papandayan, yakni Kawah Baru, Kawah Emas, Kawah Nangklak, serta Kawah Manuk/Balagadama dalam radius 500 meter.
Pengunjung juga diminta mewaspadai gas beracun yang konsentrasinya dapat meningkat secara tiba-tiba, potensi letusan mendadak, serta longsor di dinding kawah kompleks Gunung Papandayan.