Namun, BMKG mengungkapkan bila hujan curahnya cukup rendah atau terjadi tidak merata efek pembersihan udara ini mungkin tidak signifikan. Curah hujan dan PM10 di Jakarta curah hujan terbukti mampu menurunkan konsentrasi PM10 dengan korelasi sebesar minus 0,501. Bila hanya mengandalkan curah hujan maka dibutuhkan sebanyak 271 mm curah hujan untuk benar-benar bisa membersihkan polutan di Jakarta.
Selanjutnya, BMKG membeberkan bahwa stabilitas atmosfer dan polusi udara yang terjebak pada tanggal 16 hingga 17 November 2024 kondisi labilitas udara di wilayah Jakarta cenderung cenderung stabil hingga lemah pada dini hari hingga pagi hari. “Ada kalanya udara menjadi lebih stabil sehingga sulit bergerak ke lapisan yang lebih tinggi hal ini bisa membuat partikel polusi terperangkap di lapisan bawah bahkan pada saat setelah hujan turun,” jelasnya.
BMKG mengatakan stabilitas atmosfer dan polusi udara yang terjebak berdasarkan pengamatan di stasiun meteorologi Kemayoran hujan turun pada tanggal 3, 4, 6, 12, 13 dan 16 November namun hujan yang turun lebih dari 10 mm hanya terjadi pada tanggal 3, 4 dan 6. Pada tanggal tersebut terlihat bahwa kategori PM per jam didominasi dengan kategori sedang.
BMKG pun mengingatkan polusi udara dapat mengancam kesehatan kita dan lingkungan. Bahkan, dampak polusi udara meliputi penyakit pernapasan dan kerusakan ekosistem. “Jangan lupa untuk memulai langkah kecil menjaga lingkungan dan mengurangi polusi,” imbaunya.