JAKARTA, iNews.id - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut penyemaian dry ice atau es kering melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) menunjukkan indikasi dampak positif dalam mengurai kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatra dan Kalimantan. Salah satu indikator terlihat dari jarak pandang di sejumlah wilayah terdampak yang berangsur membaik, termasuk Kota Palembang, Sumatera Selatan.
Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG, Tri Handoko Seto menjelaskan, penyemaian dry ice dilakukan untuk mengatasi lapisan inversi atmosfer yang menahan asap di dekat permukaan. Dalam kondisi tertentu, asap karhutla dapat terjebak di atmosfer hingga ketinggian 6.000–7.000 kaki atau lebih.
“Lapisan inversi bertindak seperti tutup yang menghambat pergerakan udara vertikal. Melalui penyemaian dry ice secara akurat dari pesawat di atas lapisan tersebut, kita berupaya menghilangkan tutup inversi ini," ucap Seto dalam keterangannya dikutip, Kamis (22/10/2026).
"Sublimasi dry ice memicu pendinginan dan penurunan suhu secara mendadak, sehingga 'pintu' aliran konveksi kembali terbuka dan asap dapat naik secara vertikal untuk terurai dan memperbesar peluang untuk awan agar bisa tumbuh untuk kemudian disemai,” tuturnya.
Seto menegaskan, penggunaan dry ice dalam operasi ini berbeda dari penyemaian awan yang bertujuan memicu hujan. BMKG menargetkan lapisan inversi yang menahan asap serta melakukan intervensi pada lapisan isoterm untuk mengubah kestabilan udara di atmosfer bagian atas.